Mengharap Reda
Hujan turun membasahi permukaan bumi yang kering. Angin membawa rintik-rintik itu menabrak kaca yang membatasi ku dengan alam. Meninggalkan jejak-jejak di kaca yang awalnya bersih.
Setiap rintiknya mengingatkanku akan kejadian yang sangat ingin aku lupakan. Ingatan akan orang yang melahirkanku dan membesarkanku seorang diri.
.
Mengharap Reda
oleh N.Riezki
The story of someone who shackled by the past.
Rate K (mudah-mudahan)
Shonen-Ai. Horror. Sadist. Angst/Tragedy.
.
“Lagi mikirinapa sih, Ze?” Tanya Tori kepada temanngopinya. Lelaki itu menyesap kopi susu kesukaannya.
Lelaki yang diajak bicara hanya meliriknya sebentar lalu kembali mengamati hujan di luar sana. “Bukan apa-apa,” jawab Zero tanpa menatap lawan bicaranya.
“Plisdeh, Ze. Lo kan taukita udahtemenanlama banget, mana percaya gue sama kebohongan lo itu,” sanggah Tori sambil menatap Zero sebal. Tangannya menyisir rambut coklatnya kebelakang.
“Kalau memang kamu tau, jangan banyak tanya,” sindir lelaki berambut hitam pekat itu. Zero kembali larut dalam pemikirannya. Potongan-potongan masa lalunya berkelana dengan liar mengambil alih otaknya.
-oOo-
20 tahun lalu..
Anak berumur lima tahun itu baru saja kembali dari tempatnya bermain dan belajar. Dengan wajah ceria ia memasuki rumah kesayangannya. Rumah yang menjaganya dan ibunya.
Keadaan rumah itu berbeda dengan biasanya. Banyak barang-barang berjatuhan di mana-mana, lampu rumah dimatikan, gorden-gorden ditutup rapat, tidak ada sambutan yang biasanya diberikan jika Zero pulang, dan banyak air berceceran di lantai rumah itu.
“Mah!! Maaahhh!! Zero pulaaaang!!” Teriak Zero kecil menyusuri setiap ruangan rumah itu. Ia menaiki anak tangga hingga sampai di lantai dua. Keadaan di sana lebih parah dari pada lantai satu. Banyak kepingan kaca berserakan, bahkan tidak sedikit cairan berwarna merah berceceran.
Dengan ragu Zero kecil melewati lorong gelap itu. Dia melangkahkan kakinya ke arah kamar ibunya, dibukannya perlahan pintu ruangan itu. Dia bisa melihat dengan jelas bagaimana ibunya terduduk lemah sambil tersenyum menyeramkan. Di depan wanita itu seorang lelaki terbujur kaku dengan kubangan cairan merah di sekitarnya.
“Ma...mah...” Panggil anak itu takut. Wanita itu mengalihkan pandangannya menatap anak semata wayangnya itu. Wanita itu tersenyum, ia mengangkat tangannya yang masih memegang palu. “Sini, sayang. Mamah mau memeluk kamu,” panggil sang ibu sambil mengibas-ibaskan palu itu perlahan.
Anak itu masih terlalu takut untuk bergerak. Di tubuh ibunya cairan berwarna merah itu masih menempel. “Sini,” pinta sang ibu lagi masih tersenyum. Di mata sang anak senyum ibunya ini sangat menyeramkan, tapi akhirnya Zero mendekati sang ibu. Ia peluk tubuh ibunya erat, sang ibu pun memeluknya lagi. “Mamah akan menjagamu, sayang. Bahkan walau mamah harus melenyapkan orang yang mamah sayang. Mamah janji,” bisiknya di telinga anak itu.
Keesokan harinya keadaan rumah kembali normal. Tidak ada bekas cairan apa pun, tidak ada pecahan kaca atau sesuatu yang berantakan. Semuanya bersih termasuk jasad lelaki itu. Lelaki yang sudah lama menjadi kekasih hati sang ibu.
-oOo-
Zero kembali dari lamunannya. Ia menyesap kopi hitam pekat yang biasa menemaninya di kala suntuk. Pandangannya ia palingkan ke arah sobat karibnya. Tori yang sedari tadi asik dengan hp-nya tersadar dan menatap Zero. “Kenapa?”
Lelaki bermata coklat layaknya orang Asia pada umumnya itu menggelengkan kepalanya perlahan. “Nggak. Aku cuma teringat sesuatu,” jawab lelaki itu pelan.
“Ibumu?” Tanya Tori dengan hati-hati. Zero kembali memalingkan pandangannya ke arah lain. “Ayolah, Ze. Kita cuma meninggalkan ibumu sebentar aja. Jangan terlalu lebaydeh. Sekarang mending lo lupaindehibu lo yang overprotectiveitu, dan nikmatinmalemkita. Udahlama banget kan kita nggakkayak gini,” komentar Tori yang sedikit sebal dengan kedekatan ibu-anak itu.
Kadang Tori sedikit cemburu dengan rasa cinta Zero pada ibunya itu. Walau lelaki bermanik zamruditu tahu tidak seharusnya ia cemburu. Memangnya dia siapanya Zero? Dia hanya teman dekatnya, tidak lebih. Dan dia tahu, Zero tidak akan pernah memandangnya lebih.
Zero menghela nafas dalam. “Mungkin kau benar,” tanggapnya kemudian kembali menyeruput kopi di tangannya.
Tiba-tiba seorang pelayan mengantarkan seloyang pieke atas meja mereka. Makanan kesukaan Zero ketika ia kecil. Ya, semasa kecilnya dulu, sebelum kenangan mengerikan itu terjadi.
Zero dan Tori sama-sama tersenyum pada pelayan itu dan berterima kasih. Keduanya bisa dengan cepat mengambil hati sang pelayan dengan senyuman mereka.
Tori memotong pieitu hingga sebagian cairan merah yang ada di dalamnya menyembul ke permukaan. Melihatnya Zero menjadi sedikit mual, tapi ia berusaha tidak menghiraukannya. Ketika Tori memberikan potongan besar padanya, rasa mual dalam tubuhnya semakin menjadi. “Kayaknya aku mau ke toiletdulu deh,” izin Zero kemudian melangkah menuju kamar kecil.
Keringat dingin membasahi tubuhnya. Tubuhnya sedikit bergetar. Semenjak umurnya yang ke tujuh, Zero selalu menjauhi cairan berwarna merah, apa pun itu. Semenjak itu pula ia menjadi tidak selera dengan makanan kesukaannya, pie.
-oOo-
18 tahun lalu..
“Mamah, kokOm Hery nggakpernah ke rumah lagi?” Tanya Zero yang berumur tujuh tahun. Ia sedang bermain dengan ibunya di ruang tengah. Tangannya masih asik menggerak-gerakkan robot pemberian pacar baru ibunya.
“Om Hery lagi sibuk, sayang,” jawab sang ibu. Zero mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia masih asik bermain hingga tidak menyadari neneknya datang.
Wanita tua itu menghampiri ibu dan anak tersebut. Ia mengagetkan Zero yang asik main robot-robotan. Zero langsung berpaling ke belakang dan menemukan sang nenek. Dipeluknya wanita tua itu. “Nenek!! Zero kangen!!” Serunya manja.
Sang nenek pun memeluk erat cucu kesayangannya itu. “Nenek juga,” katanya sambil tersenyum.
“Tumben Ibu datang ke mari,” kata Ibu Zero sambil berdiri untuk membuatkan ibu mertuanya itu teh.
“Iya, ibu kangen sama jangoan nenek yang satu ini,” jawab sang nenek sambil mencubit hidung kecil Zero. Zero tertawa setelahnya.
Kehangatan menyelimuti rumah itu hingga malam tiba. Pukul delapan malam Zero sudah disuruh tidur oleh ibunya, padahal dia tidak ingin tidur karena ingin bermain dengan nenek. Tapi apa daya? Zero kecil tidak bisa membantah kata-kata sang ibu, maka dari itu ia pun pergi tidur.
Di tengah malam, Zero terbangun karena ingin ke kamar kecil. Ketika melewati ruang tengah, Zero mendengar samar-samar suara orang yang sedang bertengkar. Ketika ia mendekat, dilihatnya ibu dan neneknya sedang bertengkar di sana.
“Ibu tidak bisa sembarangan ingin mengambil alih hak asuh Zero!”
“Kenapa tidak bisa? Aku tidak mau cucu kesayanganku diasuh oleh orang gila sepertimu!”
“Aku tidak gila!”
“Kamu gila! Kamu sudah membunuh anakku dengan tanganmu sendiri!”
“Itu semua demi melindungi Zero! Aku rela membunuh siapa pun demi menjaganya!”
“Itu gila! Anakku tidak mungkin berniat melukai anaknya sendiri!”
“Ibu taudari mana?! Anakmu itu berniat untuk membawa Zero ke panti asuhan!”
“Dia hanya ingin Zero punya adik karena kamu tidak bisa hamil lagi!”
“Bohong! Itu semua bohong! Atau jangan-jangan ibu pun ingin mencelakai Zero?!”
“Kamu gila?! Mana mungkin!”
“Bohong!!!” Seru Ibu Zero sambil melempar sebuah vas bunga ke arah kepala sang nenek. Wanita tua malang itu tidak sempat menghindar sehingga kepalanya terkena dan mengeluarkan cairan merah kental. Ibu Zero kemudian mengambil palu yang ia sembunyikan di belakang vas bunga itu. Dengan penuh emosi, dipukulnya kepala wanita malang itu dengan benda tumpul itu.
Di balik pintu Zero bisa mendengar teriakkan sang nenek yang kesakitan. Sakarang ia mengerti cairan berwarna merah itu apa. Cairan itu adalah cairan yang bisa menjaga seseorang tetap hidup. Cairan yang mengalir di seluruh tubuh manusia. Darah. Itu lah namanya.
Sang nenek melirik ke arah Zero berdiri dan menemukan cucu kesayangannya di sana, melihatnya dengan ngeri. Sang nenek kaget tapi tubuhnya sudah lemas, otaknya sudah tak dapat berfikir, yang ia tahu di sana ada cucunya yang melihat bagaimana sang malaikat kematian mencabut nyawanya melalui ibu dari anak itu.
Dengan cepat anak itu lari dari sana menuju kamar mandi, ia ingin melupakan apa yang ia lihat. Gambaran mengerikan yang pernah ia lihat sebelumnya. Hanya saja kali ini, kejadian yang tak sepantasnya ini terjadi pada neneknya sendiri.
Keesokkan paginya Zero hanya diam tak berkata apa pun. Ibunya menjelaskan bahwa neneknya sudah pulang dan tak akan pernah kembali lagi. Zero tak menanggapi karena ia tahu mengapa neneknya tak akan kembali, karena ibunya tidak mengizinkannya untuk kembali, baik ke rumahnya sendiri atau pun ke dalam rumah ini.
-oOo-
Zero membasuh wajahnya yang pucat dengan air dingin, berusaha meredakan rasa mualnya. Dihembuskan nafasnya dengan berat. Matanya menatap dirinya sendiri di cermin. Bayang-bayang neneknya seolah muncul di sana, menatap ke arahnya seolah meminta tolong. Rasa bersalah menyelimuti Zero. Seolah bayang-bayang itu nyata, dia bisa merasakan tangan dingin neneknya yang memegang tangannya. Tubuh Zero menegang.
“Tolong... Tolong nenek, Zero...” Suara itu menggema di kepala lelaki itu. Wajahnya semakin pucat, dan rasa mual kembali menyelimuti. Dia tidak dapat menggerakan tubuhnya, seolah ia lumpuh seketika. “Tolong... Zero...”
Kriek!
Suara pintu menyadarkan Zero kembali. Dia menoleh dan mendapati Tori di sana. “Lama banget sihlo!” Serunya sebal, kemudian berbalik dan kembali menutup pintu kamar kecil itu. Setelah membasuh wajahnya sekali lagi, Zero mengikuti temannya tersebut kembali ke kursi mereka.
Dengan ragu Zero memasukkan sesendok pieke dalam mulutnya. Ia bisa merasakan bagaimana tubuhnya memberontak menolak makanan itu. Namun ia paksa untuk menelannya.
Zero kembali menatap tetes-tetes hujan yang membasahi kota kelahirannya ini. Sebuah memori kembali menguasai akalnya. Hanya ada satu kenangan tentang hujan yang ia ingat hingga detik ini. Waktu umurnya menginjak sepuluh tahun, saat ia mulai membenci hujan.
-oOo-
15 tahun lalu..
Hari ini hujan turun dengan lebat, Zero lupa membawa payungnya. Dengan berat hati akhirnya dia memilih untuk lari menembus derasnya hujan. Ketika dia sampai di depan rumahnya, dia melihat halaman depan rumahnya banjir. Ketika dia mendekat, dia melihat kain putih yang mengambang karena penasaran Zero mendekati kain putih itu.
Jantungnya berdebar sangat cepat ketika sampai di depan kain putih itu. Dia bisa melihat ada jasad ayah, pacar pertama ibunya, Om Hery, nenek, dan bahkan orang-orang lain yang tidak ia kenal. Tubuh mereka semua sudah sangat mengenaskan, daging-dagingnya sudah mengelupas hingga tulang berwarna putih bersih itu terlihat. Kebanyakan kepalanya terbuka dan isinya tidak ada. Zero tidak pernah tahu bahwa halaman rumahnya selama ini adalah kuburan korban-korban ibunya.
Dengan cepat ia memasuki rumahnya dan segera berlari ke kamar mandi. Ia memuntahkan semua isi perutnya, pemandangan yang ia lihat tadi membuat perutnya mual dan jijik. Setelah itu ia segera mengganti bajunya dan membuang baju itu ke tempat sampah.
Di dapur sang ibu sedang memasak makan siang dengan tenang, tidak terpengaruh oleh derasnya hujan di luar. Saat sang anak memasuki dapur, wanita itu menoleh dan tersenyum ke arah sang anak.
“Zero sudah pulang?” Sapa sang ibu lembut. Anak itu hanya tersenyum. Sang ibu menyadari ke anehan pada putranya, dimatikannya kompor di depannya dan dihampiri anaknya itu. “Kenapa?”
Zero menggelengkan kepalanya. “Kamu bisa bicara sama mamah,” kata sang ibu sambil memeluk sang anak. “Mamah akan mendengarkan dan melalukan apa pun agar masalahmu selesai,” lanjutnya. Zero masih tidak bicara. “Mamah sayang sama kamu. Jadi mamah juga ingin tauapa yang membuatmu seperti ini, sayang,” katanya lagi.
“Bukan apa-apa, mah,” jawabnya tanpa memeluk ibunya kembali.
“Apa Zero nggaksayang sama mamah? Kenapa Zero nggakmau cerita sama mamah?”
“Zero sayang mamah kok.”
“Kalau gitu cerita dong..”
“Nggakada yang harus diceritain, mah. Zero cuma capek..”
Sang ibu terdiam kemudian mencium puncak kepala sang anak. “Kalau ada apa-apa Zero cerita ya, karena Zero hidup mamah. Mamah nggakmau liatZero murung seperti ini. Oh iya, mamah bikinin masakan kesukaan kamu lho! Pie!”
Zero kembali merasakan mual ketika mendengar makanan itu disebut, namun ia berusaha tersenyum dan bertingkah seolah dia senang akan hal itu.
-oOo-
“Zero! Heh, Zero!” Panggil Tori yang melihat teman ngobrolnya itu larut dalam pikirannya sendiri. Zero menoleh ke arah Tori. “Apa?” Tanyanya tanpa rasa bersalah.
“Apa, lagi? Lo dari tadi bengoong terus! Lagi mikirin apasih?” Tanya Tori dengan memanjangkan kata bengong.
“Masa?”
“Tuh kan! Nggak sadar! Gue ditinggalin sendiri aja terus!” Protesnya.
“Aku kan dari tadi sama kamu,” sanggah Zero.
“Raga sihsama gue, tapi jiwa lo? Nggak, Ze.” Nada Tori berubah sedih di akhir.
Zero jadi tidak enak hati pada Tori. “Sorry, sorry. Lagi banyak pikiran,” jelasnya, meminta maaf pada Tori.
“Ya, gue ngerti.”
Zero tersenyum. Dia kemudian mencari topik hingga mereka bisa berbincang panjang lebar. Kadang topik mereka menyimpang, tapi Zero tidak keberatan dengan itu asal sahabatnya itu senang.
Besoknya, Tori tidak terlihat di kantor bahkan hingga hari-hari berikutnya. Zero merasa ada yang aneh dengan semua ini. Saat ia pulang dari kantor, ia melihat ibunya sedang menonton tv di ruang tengah. Dihampirinya wanita itu.
“Anak mamah sudah pulang?” Tanya wanita itu sambil memeluk Zero manja.
“Mah, udahbeberapa hari ini Tori absen,” cerita Zero memulai pembicaraan. Sang ibu menatap anaknya bingung, dia kemudian melepas pelukkannya.
“Terus?” Tanya ibunya ketus.
“Nggak, Zero cuma mau cerita,” jawab anak itu berusaha memancing ibunya.
Sang ibu kembali fokus pada acara tv yang ia tonton tadi. Zero ikut menonton acara tv itu. Mereka hanya diam hingga akhirnya sang ibu berbicara. “Bukannya kita sudah membicarakan ini ya? Kamu tidak boleh berteman dengan Tori.”
“Tapi Tori baik, mah,” bela Zero.
“Kamu tidak tauapa-apa. Dan ini akibatnya karena sudah melanggar perintah mamah,” sanggah sang ibu dengan suara yang sangat pelan tanpa menatap sang anak.
Zero bisa merasakan hawa yang berbeda dari sang ibu. Aura yang menyeramkan. “Tapi bukan berarti mamah harus mencabut nyawanya!” Seru Zero tidak tahan.
“Kamu tidak tahu apa-apa! Dia berbahaya! Dia harus dilenyapkan!”
“Tapi mamah selalu melenyapkan semua orang yang Zero sayang!”
Sang ibu menatap Zero kaget. “Mamah nggak pernah melenyapkan siapa pun yang kamu sayang. Mamah hanya ingin menjagamu...”
“Menjaga Zero dari apa?! Zero nggaksayang lagi sama mamah! Zero capek sama mamah!” Seru laki-laki itu kemudian meninggalkan ibunya seorang diri.
Ibunya kaget dengan pernyataan anak semata wayangnya itu. Penolakkan yang sangat tegas dari sang anak menjadi panah yang sangat tajam yang mampu membunuh jiwanya detik itu juga.
Sang ibu berjalan ke arah kamarnya, memasuki kamar itu dan menguncinya dari dalam. Bila anaknya sudah tidak menyayanginya lalu apa alasannya... Untuk tetap hidup?
-oOo-
Di luar sana hujan kembali membasahi bumi. Mengubah udara panas menjadi dingin. Di balik dinding tipis ini, Zero bisa merasakan betapa dinginnya angin di luar sana. Sedingin apa pun itu, Zero sudah tak peduli. Kakinya di rantai pada kaki ranjang yang sangat keras.
Seorang suster memasuki ruangan itu sambil membawa makanan untuk Zero. “Ini makan dulu,” katanya dengan sangat lembut. Suster itu merasa iba melihat kondisi Zero yang mengenaskan.
Sang suster menatap ke arah jendela yang sedari tadi diamati lelaki itu. “Pasti sebentar lagi reda,” komentarnya.
“Semoga.”
-oOo-
“Zero... Tolong maafkan mamah ya... Mamah sayang Zero...”
-Tamat-
Comments
Post a Comment