Astronaut
“…so disconnected. It’s so different in my head.
Can anybody tell me why I’m lonely like a satellite?”
–Simple Plan
.
Astronaut
oleh N.Riezki
Family. Hurt/Comfort.
.
Pernah merasa sendirian ketika berada di antara lautan orang? Seolah sepi menyelimuti dan menutup telingamu rapat-rapat. Berjalan tak tentu arah, bahkan bingung akan jalan pulang. Rumah bukanlah suatu tempat untuk pulang, hanya tempatmu untuk tidur dan bangun memulai hari yang sama.
Apa pernah merasa terasingkan meskipun dalam keluargamu sendiri? Semua yang kau lakukan salah. Karyamu hanya sekedar gundukan sampah. Hingga hatimu merjerit dan terkapar pasrah.
Mungkin itu yang dirasakan seorang anak laki-laki berumur 14 tahun yang baru saja pulang dari sekolahnya. Semua orang mengatakan dia bodoh, menghinanya seolah dia adalah orang paling rendah di dunia. Apa salahnya mendapat nilai 3 di matematika? Setidaknya dia bisa menjawab satu soal benar dari 40 soal yang ada. Dia tidak menyontek untuk mendapatkan nilai itu. Dia jujur dan tidak seperti teman-temannya. Namun mengapa gurunya begitu marah padanya? Memakinya di depan kelas.
Dengan wajah kusut anak laki-laki itu melepas tas gendongnya dan melemparnya sembarangan. Bukan hanya guru matematikanya yang marah, bahkan kebanyakan guru juga memarahinya. Mengatakan dia kurang belajar. Tahu apa mereka tentang hidupnya? Apakah guru-guru itu ada di rumahnya ketika dia berusaha memahami semua masalah yang mereka berikan? Tidak bukan?
Dia memaki. Ingin rasanya dia berteriak, mengatakan pada orang-orang yang menganggap dirinya dewasa bahwa hidupnya tidak semudah itu. Semua orang punya masalahnya masing-masing, bahkan anak kecil berumur 14 tahun sekalipun.
Rara Hanifa. Itu namanya. Seperti perempuan bukan? Thanks to it, everyone think hewas a girl. Laki-laki di sekolahnya mengejeknya, apa lagi dengan wajah dan suara yang seperti perempuan. Dia berharap dia benar-benar perempuan, setidaknya dia tidak akan diejek banci, gayatau semacamnya. Memang mereka tahu apa tentang gay? Ingin rasanya Rara tertawa di depan mereka, dan mengatakan mereka lah yang gay. Mana ada laki-laki yang pergi ke kamar kecil bersama-sama? Katanya laki-laki tapi pergi ke kamar kecil sendiri saja tidak berani. Cuih.
Rara mengambil gelas dan mengisinya dengan air putih. Menengguknya dengan cepat, meletakkan gelasnya dan kembali membopong tasnya. Dengan gesit dia lari ke lantai dua menuju kamarnya. Dia sedang tidak ingin bertemu dengan keluarganya saat ini. Bisa-bisa diceramahi hingga larut dan kehilangan waktu main game-nya.
Ya. Rara bukan orang yang produktif. Dia lebih suka diam di dalam kamar seharian dan bermain game online. Menghabiskan sebagaian besar waktunya untuk hal yang dia sukai. Kalian berpikir bahwa karena itulah nilainya jelek? Kalian salah. Tidak selamanya gameitu buruk untuk seseorang. Ya, Rara mungkin bodoh–atau apapun sinonimnya–tapi dia ahli dalam bidangnya, bermain game.
Sudah banyak penghargaan yang dia dapat karena hobinya itu. Meski begitu dia selalu berpikir bahwa dia hanyalah seorang noobdan gagal akan segala hal. Terkadang kata-kata yang dilontarkan padanya menempel di otaknya dan tidak mau lepas. Berapa kalipun dia berusaha menghapusnya dia selalu mengingatnya.
Di depan layar komputernya dia menjadi orang yang berbeda. Dunia maya adalah tempatnya yang asli, tempatnya untuk pulang. Memasang headsetdan mengatur tempat duduknya. Dia tidak ingin diganggu, rasanya dia hanya ingin tenggelam dalam dunianya.
Waktu terus berputar. Perlahan-lahan jarum pendek bergeser. Rara sudah meninggalkan dunia nyata dan hanyut dalam kesemuan dunia maya. Tangannya bergerak dengan sangat cepat, matanya mengikuti kemana avatar-nya bergerak. Musuh yang datang menghadangnya dia kalahkan dengan mudah. Dia bukan pecundang di sini, dialah pahlawannya.
“Lala.”
Panggilan itu menyadarkannya dari dunia kecilnya. Seorang anak perempuan sebaya dengannya berdiri di mulut pintu. Gadis itu berambut hitam sebahu, paras yang serupa dengannya, suara yang lembut, senyum ikhlas yang selalu terlukis di wajahnya. Berbeda dengan Rara auranya begitu menenangkan dan anggun.
Dia adalah Sarara Hanifa, kembaran Rara. Gadis yang memiliki banyak pengagum rahasia. Bagaimana tidak, dia cantik, baik, ramah, pintar, supel, berkebalikan dengan Rara. Walau begitu mungkin hanya Sararalah keluarga bagi Rara.
Rara tersenyum. Dia menghentikan segala aktifitasnya dan berdiri. Melangkah menuju saudara kembarnya. “Ada apa?” tanyanya. Dia berusaha agar suaranya tidak terlalu lembut, tapi semua orang tahu dia selalu melembutkan suaranya di depan saudara kembarnya. Dan akan selalu seperti itu.
“Um… makan?” ajaknya sambil tersenyum penuh harap.
Ya. Sararalah yang bisa membuat Rara tetap duduk dan makan bersama dengan keluarganya. Sekalipun dia tidak pernah merasa diinginkan di sana, tapi Sarara selalu berusaha agar dia tidak berpikir seperti itu.
Dengan sedikit berat hati Rara mengangguk. Dia mengikuti Sarara turun ke bawah. Di meja makan, ayah, ibu, dan kakaknya–Bang Rais–sudah duduk dan menunggunya untuk mulai makan malam. Keluarganya bukanlah keluarga yang besar, hanya sepasang suami-istri dan tiga anak. Tidak kaya, hanya berkecukupan. Rumahnya sederhana, namun sayang tidak terasa hangat. Orang bilang kalau rumahmu terlalu besar akan terasa dingin, mungkin mereka salah… karena rumah kecilpun akan terasa dingin saat isinya tidak peduli pada satu sama lain.
Rara bisa merasakan keberadaannya tidak disukai di meja itu. Orang tuanya tidak bangga padanya, mereka hanya menganggap Rais dan Sararalah anaknya. Setidaknya itu yang dipikirkan Rara. Dia merasa terasing. Tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. Terlalu berbeda untuk keluarga kecil yang tak mempedulikannya itu. Setiap hari saat mereka makan dia selalu diam. Entah kapan terakhir kali Rara bicara pada keluarganya. Suaranya keluar itupun ketika dia sudah mulai bosan diceramahi dan dimarahi.
Rara bisa melihat mulut mereka bergerak menciptakan sebuah kata, lalu kalimat. Namun suaranya tak terdengar, seolah telinganya sudah ditutup untuk mendengar suara keluarganya. Dia memperhatikan semua yang dilakukan anggota keluarganya, mungkin mereka sedang membicarakan sesuatu yang penting, karena Rara melihat ibunya bermain dengan kuku jarinya. Ibunya sedang gugup atau menyembunyikan sesuatu. Sejujurnya Rara ingin tahu, namun dia tidak mengerti. Semua suara seolah bercampur dan dia tidak bisa mendengar apapun.
Apa ini salahnya hingga dia tidak bisa mendengar suara keluarganya sendiri?
Sambil menyendok makanan ke mulutnya dia tetap diam dan membiarkan waktu berlalu dengan cepat. Dia ingin cepat keluar dari sini, dia sudah tidak tahan, lagi pula saat ini dia sedang melawan bos terkuat di level-nya. Dia harus cepat menyelesaikannya.
Setelah semuanya selesai, Rara langsung berlari ke kamarnya, tidak peduli dengan panggilan ibunya. Dia ingin cepat menyelesaikan levelini agar bisa naik ke tingkat yang lebih tinggi. Sambil menyetel lagu dari penyanyi favoritnya dia kembali terjun bebas ke dalam dunianya.
-oOo-
Ada satu kesalahan yang Rara sadar terdapat dalam keluarganya. Dan itu adalah kelahirannya. Sering kali dia berpikir kehadirannya di dunia ini adalah kesalahan. Mungkin sebenarnya Tuhan hanya ingin mengirimkan Sarara ke keluarga ini, tapi tanpa sengaja dia juga ikut dan terbentuk. Mungkin juga ada alasan lain yang lebih logis. Tetapi yang pasti pikirannya itu bisa dia buktikan.
Kedua orang tuanya selalu melihatnya dengan pandangan merendah. Mereka selalu bilang apapun yang dilakukan Rara adalah salah. Kenapa Rara tidak bisa seperti Bang Rais sih? Baik, penurut, mau mendengarkan orang tua, dan bla bla bla…
Seolah tidak ada orang lain yang bisa dibandingkan dengannya. Memangnya kenapa dengan Bang Rais? Dia tidak sebaik kelihatannya. Rara tahu dibalik semua topeng manisnya Bang Rais suka sekali minum. Dia sering pergi ke hotel bersama temannya, entah melakukan apa. Pernah sekali Rara menangkap basah Bang Rais sedang meminum winemerah. Bang Rais tidak sebaik itu, lalu kenapa mereka begitu bangga padanya?
Rara membenci orang tuanya karena lebih mengagungkan orang yang jelas-jelas tidak baik. Dia membenci semua orang dewasa, karena mereka tidak mau tahu apa yang sebenarnya terjadi. Mereka hanya percaya pada apa yang mereka lihat dan mengabaikan kenyataan yang ada. Dia membencinya.
Di malam yang dingin Rara selalu memeluk guling kesayangannya. Menceritakan kekesalannya, dengan membiarkan bulir-bulir air matanya menetes membasahi bantal. Sesekali untuk menenangkan diri dia berdiri di depan jendela kamarnya dan menatap langit.
Dia tidak sendirian, dia yakin itu. Di luar sana, di tempat yang jauh, ada orang lain yang merasakan hal yang sama dengannya. Merasa terasing dan berbeda. Benarkan? Ada orang lain bukan? Dia tidak sendirian kan? Seandainya ada yang bisa menjawabnya. Karena dia takut. Dia selalu takut. Takut akan mengecewakan banyak orang. Takut tidak akan bisa berdiri dengan kakinya sendiri. Dan dia takut akan ditinggal dan diabaikan.
-oOo-
Sama seperti hari-harinya yang lain. Dimarahi guru, diejek, dihina, dimaki. Makanan sehari-hari. Yang membedakan adalah kesialannya berlipat ganda hari ini. Telat bangun, tidak mengerjakan PR, dihukum, dan yang lebih parahnya saat dia mau pulang dari sekolah dicegat oleh segerombolan anak yang merupakan kakak kelasnya. Padahal tempat itu jauh dari sekolahnya, kenapa mereka ada di sana? Sial!
“Heh! Berikan uangmu! Kita mau ke warnetnih!” seru salah satu dari orang-orang berbadan besar itu.
“Lho, terus urusannya apa denganku, sampai harus memberi kalian uang,” tolaknya dengan kesal. Suaranya yang cukup cempreng menggema di lorong sempit tersebut.
“Mau sok jago ya!?”
Saat beberapa orang memegang tubuhnya dan sang ketua geng–yang kelihatannya begitu marah mau memukulnya, seseorang menghentikan gerakan tangan sang ketua geng. Dia adalah seorang anak lelaki yang mungkin seumur dengan Rara. Dengan rambut hitam legam dan kacamata yang bertengger di hidungnya. Wajahnya lumayan dan dia kelihatan shocksaat melihat Rara.
“Um… menurutku tidak baik memukul seseorang,” ujar anak itu sedikit ragu. Rara yakin dia pasti berpikir kalau yang sedang dicegat itu anak perempuan dan kaget saat melihat ternyata itu anak laki-laki.
“Kamu mau jadi pahlawan, HAH!?” bentak sang ketua geng.
Terlihat dari wajah anak itu dia tidak ingin berurusan dengan para pereman itu. “Bukan, hanya saja…”
Belum kata-katanya selesai terucap, air terjun bebas dan membasahi sekujur tubuh sang ketua geng. “EH!? DI BAWAH ADA ORANG? MAAF YA!” teriak siluet dari atas gedung.
Rara tidak bisa melihat siapa orang itu. Tapi begitulah takdir membawanya ke kehidupan yang lebih baik. Menambah orang yang peduli padanya selain Sarara. Di hari sialnya dia bertemu dengan orang-orang yang akan merubah cara pandangnya.
-TAMAT-
Comments
Post a Comment