Superior

Superior
Oleh N.Riezki
.
Karakter dalam cerita ini hanya fiksi belaka, jika ada kesamaan nama, tempat, situasi, dan kondisi itu semua hanya kebetulan.
.
Kadang orang dewasa itu membingungkan. Mereka yang bilang bahwa kita tidak boleh membeda-bedakan orang. Mereka pula yang mengatakan semua orang itu sama. Mereka yang selalu mengingatkan kita bahwa perbedaan bukan penghalang dari persatuan. Lalu kemana kata-kata manis itu ketika berhadapan dengan kenyataan?
“Mereka lagi, mereka lagi,” suara olok-olok itu terdengar dari ruang tengah, tempat sebuah TV 24 inchdiletakkan. Sudah pasti sang pemilik suara saat ini sedang duduk dengan gayanya yang seperti pemilik perusahaan berkeuntungan miliyaran. Padahal pakaiannya hanya kaus kutang yang sudah sobek di sana-sini, dipadukan dengan celana pendek belel yang tak layak pakai. Wajahnya kusam tidak terawat, rambut-rambut halus mulai tumbuh menutupi rahangnya, kerutan-kerutan tipis melukis rupanya. Diantara telunjuk dan jari tengah tangan kirinya terselip sebatang kretek yang menyala.
Ruangan itu diselimuti oleh asap beracun yang pekat, namun lelaki tersebut mengabaikannya. Batangan racun itu sudah menjadi makanannya setiap hari. Biasanya dia menghisap gulungan-gulungan nikotin itu sambil menonton acara berita pagi di televisi. Kalau sedang libur dia bisa menghabiskan seluruh harinya menghisap racun sambil mengomentari semua acara yang muncul di TV.
Kegiatannya memang tidak berguna, tetapi katanya itu adalah caranya untuk bertahan hidup. Waktu kecil aku tidak mengerti apa maksudnya. Bagaimana bisa menghisap sesuatu yang hanya menghasilkan asap bisa membantunya bertahan hidup? Tapi sekarang aku mengerti. Hidupnya memang tidak berguna, jadi melakukan hal yang tidak ada manfaatnya seperti itu bisa membantunya menjalani hidup. Dia tidak perlu berpikir, tidak perlu bergerak, bisa seenaknya menyuarakan apa pun yang ada dipikirannya, tidak peduli itu salah atau benar.
“Mereka itu benar-benar licik! Bisa-bisanya masuk ke Indonesia dengan mudahnya! Sudah pasti si pasukan kecebong yang masukin! Kok mau-maunya sih dibodohinkayak gitu!” komentarnya dengan menggebu-gebu. Saat ekor matanya menangkap sosokku yang sedang berusaha menghindarinya, lelaki itu langsung berbalik menghadapku. “Heh, Ardit, kamu jangan mau deh temenansama mereka! Mereka tuh licik! Yang ada kamu ditipu sampai miskin!” perintahnya.
Dia bahkan tidak peduli saat salah menyebut namaku. “Nama saya Adit, Pak,” ralatku dengan penekanan dikata pak. Aku bukan anak yang kurang ajar. Aku tahu diri, selama 14 tahun hidupku aku tinggal di sini, makan dari uang yang dihasilkan lelaki itu. Pakaianku, tas, sepatu, kamar, semua barang yang aku punya secara tidak langsung adalah miliknya. Jadi apa pun yang terjadi aku tetap harus hormat padanya.
“Ya, ya. Intinya jangan temenansama mereka! Kamu kan bego, nanti yang ada uang bapak habis gara-gara kamu temenansama mereka!”
Terkadang mengabaikannya terasa lebih mudah dari pada membetulkan apa pun yang ada di kepalanya itu. Kenapa repot-repot membetulkan kalau tahu tidak akan didengar?
Tiba-tiba terdengar suara pintu depan yang berderit, menandakan seseorang membuka pintu. Bahkan tanpa menoleh pun aku sudah tahu siapa yang datang. Langkah kakinya yang diseret, dentingan logam yang bertemu dari koleksi gantungan kunci miliknya, mulutnya yang komat-kamit. Rasanya aku ingin mengulang waktu dan berkata iya ketika Ridho mengajak main tadi. Setidaknya Ridho lebih asik dari pada mereka.
“… sama orang beda agama. Mereka tuh enggak tahu apa yang benar dan salah! Sudah dibilanginitu riba, masih saja dilakuin. Bego kali ya? Punya otak kok enggak dipakai …” gerutunya dengan suara kecil saat melewatiku.
Rambutnya yang diikat tinggi dibalut pashmina pink yang menutupi seluruh kepalanya. Wajahnya dilukis make-up berdominan merah muda. Dari baju dan perhiasan yang dipakainya, sudah pasti dia baru saja pulang dari arisan ibu-ibu komplek.
Matiinrokoknya, pak. Bau,” katanya setelah menghempaskan diri ke sofa. Biasanya wanita itu tidak mau dekat-dekat dengan bapak kalau sedang merokok. Katanya itu satu-satunya kebiasaan bapak yang dia benci. Mungkin dia bohong, mungkin juga tidak, tapi cukup sering aku mendengarnya memaki bapak di belakang.
“Kenapa lagi?” tanya bapak yang tidak peduli dengan suruhan istri keduanya tersebut.
“Itu si Anes mentang-mentang masih muda, dibilangin enggak mau dengar,” keluhnya. Dalam hati aku merasa kedua orang tuaku juga begitu. Mereka hanya peduli dengan diri mereka sendiri dan tidak mau mendengar orang lain.
Tidak mau mendengarkan keluhan dua orang yang paling tua di rumah itu, aku memilih untuk menaiki tangga menuju kamarku. Kenapa ya, orang dewasa itu selalu merasa paling benar sendiri?
-oOo-
“Kenapa ya orang tuh, kayak gitu banget? Tempat asalnya sih kasar, jadi kan orangnya juga kasar. Dibilanginbaik-baik malah marah-marah. Lama-lama enggak ada teman, baru tahu rasa…”
Gerutuan itu kembali aku dengar ketika aku baru saja melangkahkan kakiku menuju dapur merangkap ruang makan. Saat ekor mataku menangkap jam dinding yang berada didapur, jarum pendeknya baru saja menyentuh angka 6. Sepagi ini dan wanita itu sudah menggerutu sebal. Mungkin telpon yang tadi dia angkatlah penyebabnya. Tanpa begitu peduli dengan masalahnya aku duduk di salah satu kursi yang ada di sana, menunggu sarapan siap.
“Adit, ngapainkamu duduk? Sini bantu ibu! Jangan mentang-mentang aku bukan ibu kandungmu jadi kamu bisa seenaknya makan dan menjadikanku pembantu! Ayahmu saja sudah cukup untuk ibu!” perintahnya saat menyadari keberadaan anak tirinya ini. Kata-katanya hampir sama persis setiap hari. Dia seolah berkata bahwa dia tidak akan pernah menganggapku sebagai anaknya. Mugkin karena itulah dia tidak pernah sekali pun menyambutku dengan senyuman.
Aku sendiri tidak pernah berpikir dia adalah pembantu di rumah ini, tapi aku juga tidak menganggapnya sebagai ibuku. Dengan sedikit terpaksa aku angkat tubuhku. 
Seperti biasa tanpa suara aku membantunya. Tinggal di lingkungan rumah yang tidak mendukung dan tidak saling peduli membuatku semakin lelah untuk bicara dan terbuka. Yang ada diantara kami saat mulut kami terbuka adalah keluhan, keluhan, dan keluhan. Entah itu tentang tetangga, teman kerja, atau pun keluarga besar.
Aku tahu bahkan dalam diam, kami saling mengeluh akan keberadaan satu sama lain. Merasa dirinya lebih baik dari pada orang yang ada di sebelahnya. Selalu merasa paling tinggi dan paling benar. Tanpa sadar merendahkan orang lain menjadi sebuah kebiasaan.
“Ambilkan pisau di sana!” perintah wanita itu tanpa menatapku sama sekali. Tanpa berkata apa pun aku mengambil pisau yang diperintahkannya. Mungkinkah pagiku menjadi lebih panjang dari ini?
“Ardit! Koran pagi bapak mana?!”
Dan teriakan itu menjawab pertanyaanku. Tentu saja masih ada satu orang lagi yang harus aku layani setiap pagi.
-oOo-
 “Kamu tuh enggak punya teman ya?” pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulut ibu tiriku tercinta. Saat aku melihat ekpresi wajahnya, dia bahkan tidak menunjukan empati sama sekali. Yang ada dia hanya memandang hina ke arahku, seolah aku tidak mampu bersosialisasi.
Kalau seandainya aku memang tidak bisa bersosialisasi itu semua salah mereka. Bagaimana tidak? Mereka bahkan tidak bisa mengajarkan anak kesayanganmereka ini cara menghadapi orang-orang yang berbeda. Mereka selalu mengeluh karena merasa diri paling hebat dan tinggi.
Seandainya aku memiliki penghasilan sendiri ingin rasanya aku memenuhi rumah ini dengan kaca. Tidak akan aku biarkan satu inci pun terlewatkan. Itu semua aku lakukan agar mereka bisa melihat raut muka mereka saat mereka sedang membicarakan orang lain.
“Saya punya,” jawabku seadanya. Tetapi setelah kejadian tadi, masih bisakah Ridho aku anggap teman?
Wanita itu hanya menatapku tidak percaya. “Kalau kamu punya, kamu tidak akan langsung ada di rumah setelah bel pulang berbunyi,” tanggapnya sambil mengedikkan bahu.
“Kenyataannya bu, rumah kita enggak sedekat itu dengan sekolah saya. Jadi tidak mungkin saya bisa langsung ada di rumah tepat setelah bel pulang berbunyi,” bantahku dengan setenang mungkin. Wanita itu lagi-lagi mengedikan bahu. Dia memilih untuk kembali fokus pada acara gosip yang ditayangkan di TV. 
Aku tidak berharap banyak saat berbicara padanya. Pada dasarnya apa pun niat awalnya, saat mulut kami terbuka, hanya kata-kata saling merendahkan, keluhan, dan rasa tidak percaya yang akan keluar. Mungkin memang merendahkan orang lain sudah menjadi sebuah kebiasaan yang tak terelakkan.
Tanpa menunggu peluang lain untuk berbicara padanya, aku memilih untuk menaiki tangga dan memasuki kamarku.


Comments